Geliat Ushuluddin UIN Jogja 2008

•Agustus 25, 2008 • 5 Komentar

oleh Muhammad Geistijany*

Beberapa hari ini fakultas kita sedang disibukkan dengan masuknya mahasiswa baru. Kesibukan itu hampir berimbas pada semua civitas akademika, baik para dosen, mahasiswa lama, karyawan-karyawan TU, jajaran Dekanat dan sebagainya. Bagi para dosen, ada kesibukan tersendiri yang terkait dengan standart kurikulum tahun akademik 2008-2009. Di beberapa jurusan bahkan ada kurikulum-kurikulum baru yang dirancang supaya bangunan keilmuannya tidak ketinggalan jaman.

Dulu penulis tidak menjumpai ada mata kuliah Filsafat Islam tradisi Timur (Baghdad), tapi di tahun ini mahasiswa AF angkatan 2007 akan mempelajarinya, di bawah pengajaran Dr. Fatimah Husein. Penulis beranggapan, barangkali tidak saja jurusan AF yang melakukan penyesuaian dan perubahan pada tataran kurikulumnya. Jurusan lain tentunya demikian juga. Tak dapat dipungkiri, perubahan adalah keniscayaan, semacam tuntutan ketika segala hal di hadapkan pada situasi mutakhir saat ini. Continue reading ‘Geliat Ushuluddin UIN Jogja 2008′

rasis (tapi) inklusif, mungkinkah…?

•Agustus 20, 2008 • 1 Komentar

Rasisme biasa dilekatkan dengan fasisme. Keduanya beda tapi menjadi identik kalau kita ingat Nazi dan Hitler. Oke. Mengaitkan keduanya akan membawa kita pada wacana Rasisme sebagai pemikiran politik. Tapi Rasisme tidak semata-mata hanya bisa dikaji dengan pendekatan itu. Rasisme merupakan salah satu penampilan wajah budaya. Seperti juga agama, sentimen rasis hampir kerapkali muncul ke permukaan tanpa kita sadari. Oleh karena itu, biarpun dibahas dalam posisinya sebagai model ideologi politis, simbol-simbol dalam Rasisme tetaplah simbol kultural yang memiliki sistem makna dan bisa dikonseptualisasikan.

Maka tak heran rasisme masih diapresiasikan secara kultural dimana-mana. Dari sisi mana rasisme bisa “dibenarkan”? Sepanjang sejarah manusia, tentu tak sulit kita menemukan ada banyak kelompok sosial, dari suku Quraisy jaman Nabi sampai pada tingkatan sebuah bangsa, Bangsa Arya misalnya. Semuanya butuh pengikat untuk integritas sistem sosial mereka. Tanpa integritas yang menyatukan individu-individu yang berbeda, sistem sosial tentu akan ambruk. Persoalan ini membawa kita pada pertanyaan: Jika sedemikian pentingnya ia, darimana pengikat sosial itu didapatkan? Continue reading ‘rasis (tapi) inklusif, mungkinkah…?’

diskusi filsafat islam: untuk pemula

•Agustus 20, 2008 • 3 Komentar

“filsafat” dan “islam”. Hubungan keduanya adalah hubungan kualifikatif. Islam disini mengkualifikasikan filsafat. Jika filsafat adalah disiplin ilmu yang bercorak radikal (baca: menyentuh akar persoalan) dalam hal pemikiran, esensialis dan universal, maka islam disini memberikan kualitas (baca: memberikan nilai) islami bagi filsafat[1].

Pengertian ini menjadi konsekuensi logis jika filsafat di dalam Islam dipandang sebagai sesuatu yang asing dan berasal dari luar (bisa Yunani, bisa Persia, Mesopotamia dll). Tapi jika filsafat diartikan sebagai buah pikiran dari suatu sistem budaya tertentu, sebagaimana kita bisa menyebut filsafat Cina, filsafat India, filsafat Barat dsb, maka Islam itu sendiri dalam ranah ide/gagasan/ajaran dan doktrinnya bisa disebut filsafat Islam. Continue reading ‘diskusi filsafat islam: untuk pemula’

Ketika ”PSK” Bermain Politik

•Agustus 17, 2008 • 2 Komentar

Ada perbedaan signifikan antara seniman dan politisi. Keduanya bekerja dalam dunia yang sangat jauh berbeda. Seniman menjual karya, mempopulerkan apa yang dikaryakannya. Sementara politisi konon merupakan figur-figur politik yang memperjuangkan cita-cita publik. Dalam konteks jagat politik Indonesia, hari ini kita melihat ada fenomena unik: artis beramai-ramai hijrah ke dunia politik.

Kita melihat ada perdebatan antara yang pro dan yang kontra terkait dengan layak atau tidak layaknya artis menjadi politisi. Sebut saja misalnya Rhoma Irama dan Rike Dyah Pitaloka yang akan digandeng PPP, Dedi “Miing” Gumelar (PDI-P), Derry Drajat, Eko Patrio, dan Wulan Guritno (PAN), mereka adalah para ”pekerja seni komersial” yang akan maju mencalonkan diri di pemilu legislatif. Continue reading ‘Ketika ”PSK” Bermain Politik’

KEMANA PARA INTELEKTUAL ITU?

•Juli 29, 2008 • 1 Komentar

Oleh :Muhammad Muhibbuddin*

Melihat kondisi bangsa kita yang masih terus menerus dalam kondisi carut marut sekarang ini, nampaknya kita perlu mempertanyakan eksistensi kaum intelektual Indonesia. Alasannya sederhana bahwa kaum intelektual, para cerdik pandai adalah agent of social change, Agent of development betul! Sekarang kemana orang-orang pinter itu? Kemana para cerdik pandai kita itu? Lari ke mana para Prof.Dr kita itu? Sembunyi di mana para sarjana kita itu? Ngumpet di mana para kaum akademisi kita itu?

Di Indonesia kaum cendekiawan bertebaran, sarjana, Ir, magister, Dr, dan profesor terus bermunculan, kampus-kampus menjamur, universitas-universitas mentereng dan gagah banyak tumbuh subur, idealnya Indonesia semakin maju dong. Namun yang muncul kok justru sebuah paradoks, keberadaan Indonesia sebagai negara sampai sekarang justru bernasib semakin sial. Masalah demi masalah terus bermunculan namun belum ada satupun yang sudah bisa diselesaikan secara tuntas.

Pengangguran intelektual

Jumlah pengangguran di Indonesia sampai saat ini bukannya menurun tetapi jutru merangkak naik. Bahkan karena daya naiknya lumayan tinggi, para intelektual pun—-yang semestinya tidak nganggur—-sekarang banyak yang ikut-ikutan nganggur. Jumlahnya pun tak cukup satu, dua, sepuluh atau seratus, melainkan menembus angka ribuan. Data statistik Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Depnakertrans) Republik Indonesia tahun 2005, menyebutkan bahwa pengangguran lulusan diploma atau akademisi sekitar 322.836 jiwa. Sedangkan sarjana lulusan universitas selitar 385.418 jiwa. Bila ditotal, setidaknya ada sekitar 708.254 jiwa pengangguran dari klanagn sarjana (Benni Setiawan :2008). Di DIY saja, yang banyak berjejal kaum pelajar, angka pengangguran intelektual cukup tinggi. Dari 148.696 pengangguran, 21.000 di antaranya berpendidikan S1 dan S2 (Republika:23/6/2008). Continue reading ‘KEMANA PARA INTELEKTUAL ITU?’

BELAJAR MEMANG TIDAK HARUS DI SEKOLAH

•Juli 22, 2008 • 1 Komentar

Oleh :Muhammad Muhibbuddin.
Revitalisasi pendidikan non formal dan non profite sekarang memang harus digalakkan. Sebab, pendidikan berbentuk sekolah formal sekarang semakin menjadi beban masyarakat kecil. Alasannya sederhana, sekolah bermetamorfosisis menjadi ladang bisnis. Karena orientasinya bisnis, maka yang lebih ditekankan adalah kuntungan materi (profite oriented). Inilah yang melatarbelakangi mengapa sekolah-sekolah di Indonesia sekarang, mulai SD hingga perguruan tinggi, sering mematok biaya jutaan bahkan puluhan juta rupiah. Sungguh sangat tidak realistis dan tak manusiawi melihat banyaknya masyarakat Indonesia yang penghasilkannya pas-pasan bahkan kurang.

Dengan biaya sekolah yang supermahal itu, orang-orang miskin harus mengubur dalam-dalam keinginanya untuk meraih haknya, yakni pendidikan. Pendidikan adalah upaya untuk memanusiakan manusia. Namun sampai sekarang pendidikan di Indonesia belum bisa mendasarkan dirinya pada aspek semangat kemanusiaan.. Bahkan semakin jauh dari nilai-nilai humanisme. Institusi pendidikan bahkan menjadi lembaga kekuasaan yang kerap kali menciptakan dehumanisasi. Dengan tarifnya yang mahal, sekolah, kampus dan sejenisnya akhirnya hanya boleh diinjak oleh masyarakat yang berkantong tebal, sekolah hanya bisa diakses oleh mereka yang berduit banyak. Kenyataan semacam ini akhirnya melahirkan diskriminasi di kalangan masyarakat.

Meruntuhkan mitos pendidikan
Di sadari atau tidak, lembaga pendidikan formal, sekolah dan kampus sering menawarkan mitos-mitos pragmatisme kepada masyarakat. Tanpa di sadari tawaran mitos ini, secara idiologis, telah menjajah masyarakat. Mitos itu misalnya masa depan yang cerah, mendapat kerja yang mudah, mudah masuk menjadi CPNS dan sebagainya. Mitos-mitos pragmatis ini seringkali menjerumuskan masyarakat sendiri. Banyak masyarakat yang rela mengorbankan segala sesuatunya hanya demi selembar ijasah, dengan asumsi bahwa ijasah itu akan memuluskan jalan untuk mencapai kesuksesan. Sementara faktanya, apa yang dikehendaki itu jarang terjadi. Kampus atau sekolah justru banyak mencetak pengangguran intelektual. Berdasarkan data statistik dari Departemen Tenaga Kerja (Depnakertrans) Republik Indonesia tahun 2005,menyebutkan bahwa pengangguran lulusan diploma atau akademisi sekitar 322.836 jiwa. Bila ditotal, setidaknya ada sekitar 708.254 jiwa pengangguran dari kalangan sarjana muda (Benni Setiawan:2008).

Mitos demi mitos itu setiap tahun terus membius masyarakat. Dan masyarakat sekolah tidak berdaya menghadapi tawaran itu. Sehingga proses mitologisasi dunia pendidikan ini telah menjelma menjadi budaya yang mengakar kuat dalam kesadaran masyarakat. Masyarakat akhirnya hanya percaya satu pakem bahwa satu-satunya jalan untuk mencapai kerir kesuksesan adalah lewat jalur sekolah formal. Lembaga non formal dianggapnya tidak menawarkan apa-apa sehingga dicampakkan. Ini pula yang menjadikan lembaga formal pendidikan menjadi lembaga yang elit dan kelihatan wah di masyarakat. Masyarakat akhirnya merasa prestisnya tinggi kalau bisa masuk sekolah formal. Padahal realitasnya banyak yang bobrok. Sudah bobrok mahal lagi. Continue reading ‘BELAJAR MEMANG TIDAK HARUS DI SEKOLAH’

budaya baca

•Juni 22, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

Ketika Budaya Nonton Kalahkan Budaya Baca

Oleh Mohammad Takdir Ilahi *

Kemajuan teknologi di satu sisi, memang memberikan secercah harapan kepada kalangan yang tertarik dengan kemajuan tersebut. Namun di sisi lain, kemajuan itu dapat berimplikasi negatif terhadap masa depan bangsa secara universal. Karena secara faktual teknologi yang identik dengan media elektronik telah menjadi candu bagi masyarakat, semisal televisi yang pada perkembangannya kian menawarkan kultur waching atau “peradaban nonton”. Realitas ini pernah diungkapkan Presiden Direktur Kelompok Kompas Gramedia Jakop Oetama, yang menuturkan bahwa kemajuan peradaban bangsa tidak bisa dibangun dengan budaya nonton, akan tetapi dengan membaca dan menulis kemajuan peradaban bangsa dapat ditentukan. Implikasi Budaya Nonton

Persoalan mengenai budaya nonton yang semakin berkembang pesat di kalangan generasi muda, tentu saja menjadi sebuah persoalan yang sangat krusial. Karena kita tahu, bahwa budaya nonton dapat memberikan kebahagiaan dan kesenangan bagi siapa saja yang menikmatinya. Dalam tayangan-tayangan televisi, disajikan beraneka ragam program yang menarik minat pemirsanya, agar termotivasi untuk menonton televisi. Apalagi kalau program itu bertemakan cinta dan persahabatan yang menjadi ciri khas sinetron Indonesia. Lebih parah lagi, tema itu kental dengan nuansa mitis.

Sinetron-sinetron seperti itu pada gilirannya akan membius dan mencandui sebagian besar anak muda untuk menikmati tayangan-tayangan tersebut. Sehingga, anak muda kita lebih senang dengan hal-hal yang sifatnya instan dan terkesan memberikan simulasi kebahagian dan kepuasan yang tentu saja bersifat fiktif dan sekejap. Terkonsentrasi pada yang instan dan sekejap, kalau mau diakui, membuat visi-visi jangka panjang akan semakin teralihkan (untuk tidak mengatakan, lenyap sama sekali).

Padahal kita sebenarnya tahu, bahwa sajian-sajian yang ada di televisi lebih banyak mengandung nilai-nilai negatif daripada nilai-nilai positifnya. Sebagai generasi muda, kita harus menyadari bahwa budaya nonton bukan merupakan budaya yang dapat memberikan keuntungan yang besar (big advantage) bagi masa depan bangsa di waktu yang akan datang. Bahkan sebaliknya, budaya nonton akan berimplikasi pada kemalasan anak muda untuk sekedar membaca dan menulis.

Kenyataan ini pada dasarnya tidak bisa kita elakkan bersama. Sebab budaya nonton yang sudah menjadi tradisi bagi sebagian besar masyarakat Indonesia akan mempersempit kesempatan untuk membangun kemajuan peradaban bangsa yang kita idam-idamkan. Kita tidak mungkin membangun bangsa ini, dengan melestarikan budaya nonton. Kita bisa mengambil contoh, bangsa Jepang yang pada awalnya berantakan akibat takluk terhadap invasi Amerika, ternyata mampu bangkit dari kehancuran dan keterbelakangan. Lalu Jepang menjelma sebagai salah satu negara maju, bahkan ikut bersaing dengan negara-negara maju lainnya. Dalam tempo yang tidak lama, Amerika yang telah menghancurkannya, justru merasa keteteran menghadapi pesatnya perkembangan dan kemajuan Jepang.

Semua ini tidak lepas dari semangat dan kedisiplinan bangsa Jepang dalam menuntut ilmu pengetahuan. Bangsa Jepang memiliki prinsip yang sangat teguh, yakni menghilangkan rasa malas ketika membaca buku. Sebagian besar bangsa Jepang telah menjadikan membaca sebagai menu utama setiap harinya dan telah menjadi budaya yang tidak bisa luntur sampai kapan pun. Di sana, sekadar untuk mengilustrasikan, setiap satu orang setidaknya membaca 7 koran. Di sini sebaliknya: 7 koran dibaca hanya oleh satu orang. Perbandingannya terpaut jauh.

Diskripsi di atas, sejatinya harus menjadi refleksi kita bersama. Karena hal itu menjadi sangat penting bagi kita untuk dijadikan pelajaran berharga bahwa peradaban bangsa hanya dapat dibangun dengan menjadikan aktivitas membaca sebagai budaya. Jika kita sadar, bahwa membaca merupakan jendela ilmu pengetahuan dan pembangun peradaban bangsa, maka ke depan kita mesti menghilangkan –setidaknya menimalisisir- budaya nonton yang menjadi problem krusial anak muda.

Revitalisasi Budaya Baca

Ketika budaya nonton semakin berkembang pesat di kalangan generasi muda, maka perlu kiranya kita melakukan gerakan-gerakan intelektual-progresif dalam rangka menjadikan membaca sebagai sebuah budaya. Gerakan-gerakan intelektual-progresif yang dimaksud penulis di sini adalah dengan jalan revitalisasi budaya baca di kalangan generasi muda.

Revitalisasi budaya baca merupakan gerakan praktis yang dapat memberdayakan masyarakat dalam hal mengakses tulisan dan bacaan. Karena, menurut Ari Ginanjar Agustian (2001), membaca pada gilirannya dapat membuka ruang berpikir bagi seseorang menjadi lebih kreatif dan progresif. Di mana seseorang yang melakukan aktivitas membaca, berati ia telah berpikir dan belajar mengenai keadaan sesuatu yang ada di hadapannya. Penekanan arti penting membaca begitu sangat dimuliakan di sisi Allah. Karena hal inilah yang akan menyelamatkan manusia dari keterbelakangan dan mendorong pada kemajuan peradaban.

Revitalisasi budaya baca dalam kehidupan bangsa begitu sangat signifikan. Karena membaca merupakan langkah awal untuk menjadikan buku sebagai teman setia kita. Maka tak salah, ketika Gola Gong (2006) menilai, bahwa “hanya dengan buku kita dapat menggenggam dunia: menjelajah segala pemikiran dan imajinasi yang terhimpun di jagat raya.”

Dalam sejarah peradaban manusia, buku memiliki kekuatan yang amat dahsyat. Namun kedahsyatan buku tidak akan ada artinya jika benda tersebut hanya dipajang, tidak pernah disentuh, apalagi dibaca. Meminjam istilah Joseph Louis Brodsky, pengarang asal Rusia, bahwa “ada beberapa kejahatan yang lebih buruk daripada membakar buku. Salah satunya adalah tidak pernah membaca buku.” Demikianlah, kembali pada buku diharapkan akan bisa meminimalisir kecenderungan generasi muda kita untuk tidak menelan candu tayangan-tayangan televisi yang tidak ada manfaatnya bagi masa depan dan perkembangan serta kemajuan peradaban bangsa.

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.