Geliat Ushuluddin UIN Jogja 2008

•Agustus 25, 2008 • & Komentar

oleh Muhammad Geistijany*

Beberapa hari ini fakultas kita sedang disibukkan dengan masuknya mahasiswa baru. Kesibukan itu hampir berimbas pada semua civitas akademika, baik para dosen, mahasiswa lama, karyawan-karyawan TU, jajaran Dekanat dan sebagainya. Bagi para dosen, ada kesibukan tersendiri yang terkait dengan standart kurikulum tahun akademik 2008-2009. Di beberapa jurusan bahkan ada kurikulum-kurikulum baru yang dirancang supaya bangunan keilmuannya tidak ketinggalan jaman.

Dulu penulis tidak menjumpai ada mata kuliah Filsafat Islam tradisi Timur (Baghdad), tapi di tahun ini mahasiswa AF angkatan 2007 akan mempelajarinya, di bawah pengajaran Dr. Fatimah Husein. Penulis beranggapan, barangkali tidak saja jurusan AF yang melakukan penyesuaian dan perubahan pada tataran kurikulumnya. Jurusan lain tentunya demikian juga. Tak dapat dipungkiri, perubahan adalah keniscayaan, semacam tuntutan ketika segala hal di hadapkan pada situasi mutakhir saat ini. Lanjutkan membaca ‘Geliat Ushuluddin UIN Jogja 2008′

rasis (tapi) inklusif, mungkinkah…?

•Agustus 20, 2008 • 1 Komentar

Rasisme biasa dilekatkan dengan fasisme. Keduanya beda tapi menjadi identik kalau kita ingat Nazi dan Hitler. Oke. Mengaitkan keduanya akan membawa kita pada wacana Rasisme sebagai pemikiran politik. Tapi Rasisme tidak semata-mata hanya bisa dikaji dengan pendekatan itu. Rasisme merupakan salah satu penampilan wajah budaya. Seperti juga agama, sentimen rasis hampir kerapkali muncul ke permukaan tanpa kita sadari. Oleh karena itu, biarpun dibahas dalam posisinya sebagai model ideologi politis, simbol-simbol dalam Rasisme tetaplah simbol kultural yang memiliki sistem makna dan bisa dikonseptualisasikan.

Maka tak heran rasisme masih diapresiasikan secara kultural dimana-mana. Dari sisi mana rasisme bisa “dibenarkan”? Sepanjang sejarah manusia, tentu tak sulit kita menemukan ada banyak kelompok sosial, dari suku Quraisy jaman Nabi sampai pada tingkatan sebuah bangsa, Bangsa Arya misalnya. Semuanya butuh pengikat untuk integritas sistem sosial mereka. Tanpa integritas yang menyatukan individu-individu yang berbeda, sistem sosial tentu akan ambruk. Persoalan ini membawa kita pada pertanyaan: Jika sedemikian pentingnya ia, darimana pengikat sosial itu didapatkan? Lanjutkan membaca ‘rasis (tapi) inklusif, mungkinkah…?’

diskusi filsafat islam: untuk pemula

•Agustus 20, 2008 • & Komentar

“filsafat” dan “islam”. Hubungan keduanya adalah hubungan kualifikatif. Islam disini mengkualifikasikan filsafat. Jika filsafat adalah disiplin ilmu yang bercorak radikal (baca: menyentuh akar persoalan) dalam hal pemikiran, esensialis dan universal, maka islam disini memberikan kualitas (baca: memberikan nilai) islami bagi filsafat[1].

Pengertian ini menjadi konsekuensi logis jika filsafat di dalam Islam dipandang sebagai sesuatu yang asing dan berasal dari luar (bisa Yunani, bisa Persia, Mesopotamia dll). Tapi jika filsafat diartikan sebagai buah pikiran dari suatu sistem budaya tertentu, sebagaimana kita bisa menyebut filsafat Cina, filsafat India, filsafat Barat dsb, maka Islam itu sendiri dalam ranah ide/gagasan/ajaran dan doktrinnya bisa disebut filsafat Islam. Lanjutkan membaca ‘diskusi filsafat islam: untuk pemula’

Ketika ”PSK” Bermain Politik

•Agustus 17, 2008 • & Komentar

Ada perbedaan signifikan antara seniman dan politisi. Keduanya bekerja dalam dunia yang sangat jauh berbeda. Seniman menjual karya, mempopulerkan apa yang dikaryakannya. Sementara politisi konon merupakan figur-figur politik yang memperjuangkan cita-cita publik. Dalam konteks jagat politik Indonesia, hari ini kita melihat ada fenomena unik: artis beramai-ramai hijrah ke dunia politik.

Kita melihat ada perdebatan antara yang pro dan yang kontra terkait dengan layak atau tidak layaknya artis menjadi politisi. Sebut saja misalnya Rhoma Irama dan Rike Dyah Pitaloka yang akan digandeng PPP, Dedi “Miing” Gumelar (PDI-P), Derry Drajat, Eko Patrio, dan Wulan Guritno (PAN), mereka adalah para ”pekerja seni komersial” yang akan maju mencalonkan diri di pemilu legislatif. Lanjutkan membaca ‘Ketika ”PSK” Bermain Politik’

KEMANA PARA INTELEKTUAL ITU?

•Juli 29, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

Oleh :Muhammad Muhibbuddin*

Melihat kondisi bangsa kita yang masih terus menerus dalam kondisi carut marut sekarang ini, nampaknya kita perlu mempertanyakan eksistensi kaum intelektual Indonesia. Alasannya sederhana bahwa kaum intelektual, para cerdik pandai adalah agent of social change, Agent of development betul! Sekarang kemana orang-orang pinter itu? Kemana para cerdik pandai kita itu? Lari ke mana para Prof.Dr kita itu? Sembunyi di mana para sarjana kita itu? Ngumpet di mana para kaum akademisi kita itu?

Di Indonesia kaum cendekiawan bertebaran, sarjana, Ir, magister, Dr, dan profesor terus bermunculan, kampus-kampus menjamur, universitas-universitas mentereng dan gagah banyak tumbuh subur, idealnya Indonesia semakin maju dong. Namun yang muncul kok justru sebuah paradoks, keberadaan Indonesia sebagai negara sampai sekarang justru bernasib semakin sial. Masalah demi masalah terus bermunculan namun belum ada satupun yang sudah bisa diselesaikan secara tuntas.

Pengangguran intelektual

Jumlah pengangguran di Indonesia sampai saat ini bukannya menurun tetapi jutru merangkak naik. Bahkan karena daya naiknya lumayan tinggi, para intelektual pun—-yang semestinya tidak nganggur—-sekarang banyak yang ikut-ikutan nganggur. Jumlahnya pun tak cukup satu, dua, sepuluh atau seratus, melainkan menembus angka ribuan. Data statistik Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Depnakertrans) Republik Indonesia tahun 2005, menyebutkan bahwa pengangguran lulusan diploma atau akademisi sekitar 322.836 jiwa. Sedangkan sarjana lulusan universitas selitar 385.418 jiwa. Bila ditotal, setidaknya ada sekitar 708.254 jiwa pengangguran dari klanagn sarjana (Benni Setiawan :2008). Di DIY saja, yang banyak berjejal kaum pelajar, angka pengangguran intelektual cukup tinggi. Dari 148.696 pengangguran, 21.000 di antaranya berpendidikan S1 dan S2 (Republika:23/6/2008). Lanjutkan membaca ‘KEMANA PARA INTELEKTUAL ITU?’

BELAJAR MEMANG TIDAK HARUS DI SEKOLAH

•Juli 22, 2008 • 1 Komentar

Oleh :Muhammad Muhibbuddin.
Revitalisasi pendidikan non formal dan non profite sekarang memang harus digalakkan. Sebab, pendidikan berbentuk sekolah formal sekarang semakin menjadi beban masyarakat kecil. Alasannya sederhana, sekolah bermetamorfosisis menjadi ladang bisnis. Karena orientasinya bisnis, maka yang lebih ditekankan adalah kuntungan materi (profite oriented). Inilah yang melatarbelakangi mengapa sekolah-sekolah di Indonesia sekarang, mulai SD hingga perguruan tinggi, sering mematok biaya jutaan bahkan puluhan juta rupiah. Sungguh sangat tidak realistis dan tak manusiawi melihat banyaknya masyarakat Indonesia yang penghasilkannya pas-pasan bahkan kurang.

Dengan biaya sekolah yang supermahal itu, orang-orang miskin harus mengubur dalam-dalam keinginanya untuk meraih haknya, yakni pendidikan. Pendidikan adalah upaya untuk memanusiakan manusia. Namun sampai sekarang pendidikan di Indonesia belum bisa mendasarkan dirinya pada aspek semangat kemanusiaan.. Bahkan semakin jauh dari nilai-nilai humanisme. Institusi pendidikan bahkan menjadi lembaga kekuasaan yang kerap kali menciptakan dehumanisasi. Dengan tarifnya yang mahal, sekolah, kampus dan sejenisnya akhirnya hanya boleh diinjak oleh masyarakat yang berkantong tebal, sekolah hanya bisa diakses oleh mereka yang berduit banyak. Kenyataan semacam ini akhirnya melahirkan diskriminasi di kalangan masyarakat.

Meruntuhkan mitos pendidikan
Di sadari atau tidak, lembaga pendidikan formal, sekolah dan kampus sering menawarkan mitos-mitos pragmatisme kepada masyarakat. Tanpa di sadari tawaran mitos ini, secara idiologis, telah menjajah masyarakat. Mitos itu misalnya masa depan yang cerah, mendapat kerja yang mudah, mudah masuk menjadi CPNS dan sebagainya. Mitos-mitos pragmatis ini seringkali menjerumuskan masyarakat sendiri. Banyak masyarakat yang rela mengorbankan segala sesuatunya hanya demi selembar ijasah, dengan asumsi bahwa ijasah itu akan memuluskan jalan untuk mencapai kesuksesan. Sementara faktanya, apa yang dikehendaki itu jarang terjadi. Kampus atau sekolah justru banyak mencetak pengangguran intelektual. Berdasarkan data statistik dari Departemen Tenaga Kerja (Depnakertrans) Republik Indonesia tahun 2005,menyebutkan bahwa pengangguran lulusan diploma atau akademisi sekitar 322.836 jiwa. Bila ditotal, setidaknya ada sekitar 708.254 jiwa pengangguran dari kalangan sarjana muda (Benni Setiawan:2008).

Mitos demi mitos itu setiap tahun terus membius masyarakat. Dan masyarakat sekolah tidak berdaya menghadapi tawaran itu. Sehingga proses mitologisasi dunia pendidikan ini telah menjelma menjadi budaya yang mengakar kuat dalam kesadaran masyarakat. Masyarakat akhirnya hanya percaya satu pakem bahwa satu-satunya jalan untuk mencapai kerir kesuksesan adalah lewat jalur sekolah formal. Lembaga non formal dianggapnya tidak menawarkan apa-apa sehingga dicampakkan. Ini pula yang menjadikan lembaga formal pendidikan menjadi lembaga yang elit dan kelihatan wah di masyarakat. Masyarakat akhirnya merasa prestisnya tinggi kalau bisa masuk sekolah formal. Padahal realitasnya banyak yang bobrok. Sudah bobrok mahal lagi. Lanjutkan membaca ‘BELAJAR MEMANG TIDAK HARUS DI SEKOLAH’

budaya baca

•Juni 22, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

Ketika Budaya Nonton Kalahkan Budaya Baca

Oleh Mohammad Takdir Ilahi *

Kemajuan teknologi di satu sisi, memang memberikan secercah harapan kepada kalangan yang tertarik dengan kemajuan tersebut. Namun di sisi lain, kemajuan itu dapat berimplikasi negatif terhadap masa depan bangsa secara universal. Karena secara faktual teknologi yang identik dengan media elektronik telah menjadi candu bagi masyarakat, semisal televisi yang pada perkembangannya kian menawarkan kultur waching atau “peradaban nonton”. Realitas ini pernah diungkapkan Presiden Direktur Kelompok Kompas Gramedia Jakop Oetama, yang menuturkan bahwa kemajuan peradaban bangsa tidak bisa dibangun dengan budaya nonton, akan tetapi dengan membaca dan menulis kemajuan peradaban bangsa dapat ditentukan. Implikasi Budaya Nonton

Persoalan mengenai budaya nonton yang semakin berkembang pesat di kalangan generasi muda, tentu saja menjadi sebuah persoalan yang sangat krusial. Karena kita tahu, bahwa budaya nonton dapat memberikan kebahagiaan dan kesenangan bagi siapa saja yang menikmatinya. Dalam tayangan-tayangan televisi, disajikan beraneka ragam program yang menarik minat pemirsanya, agar termotivasi untuk menonton televisi. Apalagi kalau program itu bertemakan cinta dan persahabatan yang menjadi ciri khas sinetron Indonesia. Lebih parah lagi, tema itu kental dengan nuansa mitis.

Sinetron-sinetron seperti itu pada gilirannya akan membius dan mencandui sebagian besar anak muda untuk menikmati tayangan-tayangan tersebut. Sehingga, anak muda kita lebih senang dengan hal-hal yang sifatnya instan dan terkesan memberikan simulasi kebahagian dan kepuasan yang tentu saja bersifat fiktif dan sekejap. Terkonsentrasi pada yang instan dan sekejap, kalau mau diakui, membuat visi-visi jangka panjang akan semakin teralihkan (untuk tidak mengatakan, lenyap sama sekali).

Padahal kita sebenarnya tahu, bahwa sajian-sajian yang ada di televisi lebih banyak mengandung nilai-nilai negatif daripada nilai-nilai positifnya. Sebagai generasi muda, kita harus menyadari bahwa budaya nonton bukan merupakan budaya yang dapat memberikan keuntungan yang besar (big advantage) bagi masa depan bangsa di waktu yang akan datang. Bahkan sebaliknya, budaya nonton akan berimplikasi pada kemalasan anak muda untuk sekedar membaca dan menulis.

Kenyataan ini pada dasarnya tidak bisa kita elakkan bersama. Sebab budaya nonton yang sudah menjadi tradisi bagi sebagian besar masyarakat Indonesia akan mempersempit kesempatan untuk membangun kemajuan peradaban bangsa yang kita idam-idamkan. Kita tidak mungkin membangun bangsa ini, dengan melestarikan budaya nonton. Kita bisa mengambil contoh, bangsa Jepang yang pada awalnya berantakan akibat takluk terhadap invasi Amerika, ternyata mampu bangkit dari kehancuran dan keterbelakangan. Lalu Jepang menjelma sebagai salah satu negara maju, bahkan ikut bersaing dengan negara-negara maju lainnya. Dalam tempo yang tidak lama, Amerika yang telah menghancurkannya, justru merasa keteteran menghadapi pesatnya perkembangan dan kemajuan Jepang.

Semua ini tidak lepas dari semangat dan kedisiplinan bangsa Jepang dalam menuntut ilmu pengetahuan. Bangsa Jepang memiliki prinsip yang sangat teguh, yakni menghilangkan rasa malas ketika membaca buku. Sebagian besar bangsa Jepang telah menjadikan membaca sebagai menu utama setiap harinya dan telah menjadi budaya yang tidak bisa luntur sampai kapan pun. Di sana, sekadar untuk mengilustrasikan, setiap satu orang setidaknya membaca 7 koran. Di sini sebaliknya: 7 koran dibaca hanya oleh satu orang. Perbandingannya terpaut jauh.

Diskripsi di atas, sejatinya harus menjadi refleksi kita bersama. Karena hal itu menjadi sangat penting bagi kita untuk dijadikan pelajaran berharga bahwa peradaban bangsa hanya dapat dibangun dengan menjadikan aktivitas membaca sebagai budaya. Jika kita sadar, bahwa membaca merupakan jendela ilmu pengetahuan dan pembangun peradaban bangsa, maka ke depan kita mesti menghilangkan –setidaknya menimalisisir- budaya nonton yang menjadi problem krusial anak muda.

Revitalisasi Budaya Baca

Ketika budaya nonton semakin berkembang pesat di kalangan generasi muda, maka perlu kiranya kita melakukan gerakan-gerakan intelektual-progresif dalam rangka menjadikan membaca sebagai sebuah budaya. Gerakan-gerakan intelektual-progresif yang dimaksud penulis di sini adalah dengan jalan revitalisasi budaya baca di kalangan generasi muda.

Revitalisasi budaya baca merupakan gerakan praktis yang dapat memberdayakan masyarakat dalam hal mengakses tulisan dan bacaan. Karena, menurut Ari Ginanjar Agustian (2001), membaca pada gilirannya dapat membuka ruang berpikir bagi seseorang menjadi lebih kreatif dan progresif. Di mana seseorang yang melakukan aktivitas membaca, berati ia telah berpikir dan belajar mengenai keadaan sesuatu yang ada di hadapannya. Penekanan arti penting membaca begitu sangat dimuliakan di sisi Allah. Karena hal inilah yang akan menyelamatkan manusia dari keterbelakangan dan mendorong pada kemajuan peradaban.

Revitalisasi budaya baca dalam kehidupan bangsa begitu sangat signifikan. Karena membaca merupakan langkah awal untuk menjadikan buku sebagai teman setia kita. Maka tak salah, ketika Gola Gong (2006) menilai, bahwa “hanya dengan buku kita dapat menggenggam dunia: menjelajah segala pemikiran dan imajinasi yang terhimpun di jagat raya.”

Dalam sejarah peradaban manusia, buku memiliki kekuatan yang amat dahsyat. Namun kedahsyatan buku tidak akan ada artinya jika benda tersebut hanya dipajang, tidak pernah disentuh, apalagi dibaca. Meminjam istilah Joseph Louis Brodsky, pengarang asal Rusia, bahwa “ada beberapa kejahatan yang lebih buruk daripada membakar buku. Salah satunya adalah tidak pernah membaca buku.” Demikianlah, kembali pada buku diharapkan akan bisa meminimalisir kecenderungan generasi muda kita untuk tidak menelan candu tayangan-tayangan televisi yang tidak ada manfaatnya bagi masa depan dan perkembangan serta kemajuan peradaban bangsa.

Membentuk Masa Depan Sejak Dini

•Juni 13, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

Tak dipungkiri bahwa dalam perkembangan fakultas Ushuluddin, ada tumpang tindih di antara jurusan-jurusan yang ada. Diantara Aqidah dan Filsafat (AF), Tafsir-Hadits (TH), dan Perbandingan Agama (PA), terdapat ketidakmerataan pengembangan. Bahkan sejak 2005, jurusan Sosiologi Agama ditutup untuk selanjutnya dimasukkan dalam jurusan Perbandingan Agama sebagai Prodi deviasinya. Menurut Dekan baru, sebagaimana informasi yang penulis dapatkan, prodi SA ini mau di-”hidup”-kan kembali dengan pertimbangan mampu mendongkrak kembali sisi-sisi marketable-nya Ushuluddin.

Dalam tulisan ini, penulis hendak menyoroti perkembangan jurusan AF. Sejauh yang bisa penulis pantau, jelas terlihat bahwa pengembangan jurusan ini tidak sebanding dengan jurusan lain, baik Tafsir-Hadits dan Perbadingan Agama. Baik dilihat dari aspek kuantitas maupun kualitasnya. Ini menimbulkan tidak saja persoalan-persoalan psikologis, tapi juga cukup mengkendalai laju ke depannya fakultas Ushuluddin, lebih-lebih jurusan AF.

Pada aspek pertama, yakni kuantitas, disinyalir bahwa jurusan ini justru mengalami perkembangan negatif alias menurun. Terlihat dari minat mahasiswa barunya, tidak sedikit diantara mahasiswa baru jurusan ini berlatarbelakang “kegagalan”. Maksud penulis, gagal diterima di pilihan pertama. Sudah barang tentu pilihan pertamanya bukan AF.

Penurunan aspek kuantitas yang lain, tidak memadainya dosen pengajar di jurusan ini. Sehingga harus mengimpor dari, misalnya, fakultas Filsafat UGM. Dari pengamatan penulis terhadap mahasiswa AF semester atas, ada miss-communication antara mahasiswa dan dosen yang diakibatkan oleh adanya perbedaan latar belakang keilmuan. Misalnya saja, mata kuliah filsafat bahasa yang diampu oleh dosen UGM, tidak menyinggung tema problematis islamic studies dalam kaitannya dengan filosofi bahasa.

Pada aspek inilah problem ketimpangan kualitas pengajar di jurusan AF itu mengemuka. Artinya, permasalahan pada aspek kuantitas melahirkan permasalahan pada aspek kualitas. Di jajaran dosen pengajar, jujur kalau kita mau mengakui, tidak didukung oleh kapabilitas yang memadai. Terkait dengan mata kuliah yang berada pada rumpun islamic philosophy dan juga Contemporary philosophy, pengajarnya tidak sememadai di jurusan Tafsir-Hadis untuk rumpun Quranic exegesis studies.

Banyak dosen kapabel malah lebih tertarik menyibukkan diri di luar. Mereka aktif mengejar di luar, padahal kapabilitas mereka sangat diharapkan dapat memacu komitmen intelektual mahasiswa. Ada desas-desus bahwa ada permainan politis di kalangan birokrasi kampus, dimana ada peminggiran terhadap dosen-dosen muda berkualitas karena motif-motif politis-sektarian. Sehingga mereka, yang terpinggirkan itu, memilih untuk berkarier akademik di fakultas (atau universitas) lain. Belum lagi dosen-dosen pengajar yang bukan berasal dari tradisi keilmuan yang kuat, melainkan tradisi birokrat-administratif. Tidak sedikit kalangan terakhir ini memiliki posisi strategis di jajaran kejurusanan AF.

Jika persoalan ini memang dianggap persoalan, lebih-lebih dihadapkan pada masa depan AF, sebaiknya perlu pengkaderan sejak dini. Persoalan ini menyangkut keberlanjutan kader intelektual AF. Bukan tidak mungkin ke depannya, orang-orang seperti Pak Simuh (alm.), Pak Musa Asy’ary, Pak Alim Roswantoro, Bu Fatimah tak ada penggantinya. Ini penting mengingat besarnya harapan pada terpenuhinya landasan filosofis bagi seluruh kajian yang dikembangkan UIN Sunan Kalijaga. Pendeknya, Mutu pengajar harus segera dipersiapkan sejak sekarang.

Alangkah baiknya jika sedari awal sudah ada pembibitan terhadap mahasiswa yang diproyeksikan untuk mengawal akademika jurusan ini. Menurut pantauan panulis, setidaknya pada mahasiswa semester 3, sebenarnya ada fenomena menggembirakan dimana banyak yang memang berniat menceburkan diri sepenuhnya dalam pengembangan kajian kefilsafatan. Fenomena ini memang patut dan “harus” diapresiasi dengan baik. Kehadiran laboratorium filsafat “al-Hikmah” akan sangat berarti apabila visi-misinya diinspirasikan dari kegelisahan ini: mengkader calon-calon intelektual AF masa depan.

Selain itu, persoalan di tingkatan mahasiswa menunjukkan bahwa banyak yang tidak siap dengan kajian kefilsafatan dan keislaman. Idealnya, jurusan ini didukung oleh kesiapan mental dan intelektual karena tak dipungkiri jurusan ini menyibukkan diri dengan pusat doktrin Islam. Maksud penulis, idealnya mahasiswa AF berlatar belakang islamic studies kuat, yang bisa direpresentasikan oleh kalangan santri. Sangat disayangkan jika mereka tidak berlatar belakang seperti itu, sementara wilayah kerjanya adalah mengkonstruk bangunan baru fondasional Islam yang up to date.

Dengan pertimbangan ini, perlu pendekatan dan perluasan kerjasama dengan pesantren-pesantren sehingga bisa diperoleh mahasiswa-mahasiswa AF masa depan yang ber-SDM kuat. Tanpa itu, mungkin AF akan terus dipandang sebagai produsen “sarjana ambigu”, bahkan lebih parah lagi seperti apa yang ditulis oleh Hartono Ahmad Jaiz. Isu yang satu ini tak perlu dipanjanglebarkan. Sayangnya, program sosialisasi kemarin tidak efektif: “jauh panggang dari api”, tidak benar-benar dihayatinya urgensi program ini karena eksekutor lapangannya bermental “memanfaatkan kesempatan”, meski tidak semuanya.

Post-scriptum, semoga tulisan ini cukup menyadarkan para pemangku kebijakan dan menginspirasikan sebuah visi kongkret bagi pengembangan Ushuluddin, terutama jurusan Aqidah dan Filsafat, ke depan. Semoga…amien….

diskusi budaya

•Juni 13, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

Meski bertepatan dengan hari pertama ujian semester genap, tidak menghalangi kawan-kawan Aqidah Filsafat mengadakan acara diskusi budaya dan bedah buku. Diskusi budaya yang bertajuk “Dialektika Seni dan Indonesia” itu diselengarakan pada 26 Mei 2008, sebagai diskusi yang berangkat dari buku terbaru Radhar Panca Dahana, “Dalam Sebotol Coklat Cair.”

Buku itu berisi kumpulan esai Radhar yang ditulis untuk melukiskan posisi seni di tengah kancah kehidupan manusia Indonesia. Hadir menyampaikan ulasannya, Radhar Panca Dahana sendiri, seorang networker budaya kawakan Halim HD dan pemerhati budaya Hairus Salim. Acara itu cukup menarik perhatian banyak kalangan, selain mahasiswa Aqidah Filsafat, seperti praktisi-praktisi kebudayaan, mahasiswa kajian humaniora dan kebudayaan, penyair-penulis muda dan sebagainya.

Bertempat di gedung Student Center lantai I, tepat pukul 15.00 acara itu dibuka dengan pembacaan puisi oleh beberapa penyair muda dari Rumah Puitika dan Sanggar Jepit Jogja. Bertindak selaku moderator dalam diskusi itu, Faiz Fahruddin dari jurusan Aqidah Filsafat. Acara ini terselenggara berkat kerjasama beberapa lembaga, diantaranya BEM-J Aqidah dan Filsafat, BEM-J TAfsir-Hadis, Komunitas KosongEnam, Komunitas Pendopo LKiS, Laboratorium Budaya dan Religi (LABEL) dan ARTi Bumi Intaran.

Dalam diskusi itu, Radhar menyampaikan kegelisahannya bahwa saat ini dunia seni tidak bisa tidak harus mengacu pada isu-isu. Hidup matinya dunia seni di Indonesia tergantung pada sejauhmana ia bisa menawarkan refleksi estetisnya tentang pengalaman-pengalaman yang bukan miliknya sendiri, melainkan pihak lain. Ini artinya, dunia seni hanya memiliki pijakan eksistensi dari hasil komodifikasi pihak lain, seperti dunia modal dan politik, terhadapnya.

Diharapkan dari acara ini adanya kesalingterkaitan antara filsafat dan seni, untuk mewujudkan dunia pemikiran sebagai seni kehidupan dan terwadahinya nuansa estetis dalam pemikiran filosofis, demi transformasi kebudayaan yang integral, tidak fragmentaris dan manusiawi.[rif]

bedahbuku about Gadamer’s Hermeneutics

•Juni 13, 2008 • 1 Komentar

Pada tanggal 29 April 2008 kemarin, BEM jurusan Aqidah Filsafat dan BEM jurusan Tafsir Hadis mengadakan acara bedah buku “Hermeneutika Filosofis Hans-Georg Gadamer” karya seorang alumni jurusan ini. Diskusi dan udar buku ini diadakan di ruang teatrikal UPT UIN Sunan Kalijaga, bersama Dr. Sahiron Syamsuddin dan penulis buku “Hermeneutika al-Quran” Fahruddin Faiz, M.Ag.

Acara ini terselenggara dengan baik atas dukungan Forum Komunikasi Mahasiswa Tafsir-Hadis dan Aqidah-Filsafat (FKM TH-AF) fakultas Ushuluddin UIN Sunan Kalijaga. Acara ini digelar untuk memperkenalkan wacana hermeneutik tradisi Jerman, terutama yang berangkat dari pemikiran Hans-Georg Gadamer. Dalam diskusi itu, disampaikan oleh Dr. Sahiron, yang lulusan doktoral dari Universitas Bamberg Jerman, bahwa pemikiran Gadamer meletakkan hermeneutik sebagai fondasi bagi Geistesswischenchaften.

Geistesswischenchaften adalah ilmu-ilmu humaniora, suatu benua ilmu pengetahuan yang melukiskan dunia-hidup manusia, yang tidak bisa disamakan begitu saja dengan orientasi eksplanatif objektif ilmu-ilmu kealaman (eksak). Oleh karena itu, al-Quran sebagai bagian dari dunia hidup umat Islam hanya bisa dikaji lewat kacamata hermeneutik. Artinya, ada peleburan horison antara umat Islam dan al-Quran ketika keduanya berinteraksi. Objektifitas-subjektifitas tidak bisa lagi dipakai sebagai acuan karena interaksi itu bersifat eksistensial, kesadaran umat Islam tak terlepas sepenuhnya dari tradisi quraniknya.

Menurut Muhammad Tijany, selaku ketua BEM Aqidah Filsafat, persoalan mendasar kenapa kita perlu mengkaji kembali hermeneutika adalah karena pendekatan yang selama ini dipakai adalah pendekatan objektif, seakan-akan al-Quran bisa berbicara sendiri dan berkomunikasi dengan manusia, padahal tidak demikian. Berbeda dengan Lien Iffah N.F., ketua BEM Tafsir Hadis, bahwa pemahaman kita tentang al-Quran tidak memiliki basis filosofis yang kuat sehingga dirasa kaku dan tak menyentuh problem-problem kemanusiaan.

Acara ini tidak bisa menyediakan tempat duduk yang cukup bagi banyaknya peserta diskusi publik itu. Ini tampak dari masih banyaknya pengunjung yang berjejalan di bagian belakang, berdiri tanpa duduk. Acara yang dimulai pada 09.00 itu berakhir ketika azan Zhuhur berkumandang. Tapi patut disayangkan jika banyak yang mengeluh karena panitia menyediakan makalah presentator dengan sangat terbatas, sehingga tidak semua peserta mendapatkannya. [yhy]