bedahbuku about Gadamer’s Hermeneutics
Pada tanggal 29 April 2008 kemarin, BEM jurusan Aqidah Filsafat dan BEM jurusan Tafsir Hadis mengadakan acara bedah buku “Hermeneutika Filosofis Hans-Georg Gadamer” karya seorang alumni jurusan ini. Diskusi dan udar buku ini diadakan di ruang teatrikal UPT UIN Sunan Kalijaga, bersama Dr. Sahiron Syamsuddin dan penulis buku “Hermeneutika al-Quran” Fahruddin Faiz, M.Ag.
Acara ini terselenggara dengan baik atas dukungan Forum Komunikasi Mahasiswa Tafsir-Hadis dan Aqidah-Filsafat (FKM TH-AF) fakultas Ushuluddin UIN Sunan Kalijaga. Acara ini digelar untuk memperkenalkan wacana hermeneutik tradisi Jerman, terutama yang berangkat dari pemikiran Hans-Georg Gadamer. Dalam diskusi itu, disampaikan oleh Dr. Sahiron, yang lulusan doktoral dari Universitas Bamberg Jerman, bahwa pemikiran Gadamer meletakkan hermeneutik sebagai fondasi bagi Geistesswischenchaften.
Geistesswischenchaften adalah ilmu-ilmu humaniora, suatu benua ilmu pengetahuan yang melukiskan dunia-hidup manusia, yang tidak bisa disamakan begitu saja dengan orientasi eksplanatif objektif ilmu-ilmu kealaman (eksak). Oleh karena itu, al-Quran sebagai bagian dari dunia hidup umat Islam hanya bisa dikaji lewat kacamata hermeneutik. Artinya, ada peleburan horison antara umat Islam dan al-Quran ketika keduanya berinteraksi. Objektifitas-subjektifitas tidak bisa lagi dipakai sebagai acuan karena interaksi itu bersifat eksistensial, kesadaran umat Islam tak terlepas sepenuhnya dari tradisi quraniknya.
Menurut Muhammad Tijany, selaku ketua BEM Aqidah Filsafat, persoalan mendasar kenapa kita perlu mengkaji kembali hermeneutika adalah karena pendekatan yang selama ini dipakai adalah pendekatan objektif, seakan-akan al-Quran bisa berbicara sendiri dan berkomunikasi dengan manusia, padahal tidak demikian. Berbeda dengan Lien Iffah N.F., ketua BEM Tafsir Hadis, bahwa pemahaman kita tentang al-Quran tidak memiliki basis filosofis yang kuat sehingga dirasa kaku dan tak menyentuh problem-problem kemanusiaan.
Acara ini tidak bisa menyediakan tempat duduk yang cukup bagi banyaknya peserta diskusi publik itu. Ini tampak dari masih banyaknya pengunjung yang berjejalan di bagian belakang, berdiri tanpa duduk. Acara yang dimulai pada 09.00 itu berakhir ketika azan Zhuhur berkumandang. Tapi patut disayangkan jika banyak yang mengeluh karena panitia menyediakan makalah presentator dengan sangat terbatas, sehingga tidak semua peserta mendapatkannya. [yhy]

waalaikum sophos… alhamdulillah saya tdk sengaja menemukan laman ini. meski telat, tak apa. kebetulan sekali saya mengambil tema tugas akhir kuliah tentang gadamer dan ulum al-Qur’an. boleh minta tolong, saya pingin konsul dengan Master Mister Sahiron dan Fahrudin Faiz. redaksi bisa kasih email mereka kan? terimakasih sebelum dan sesudahnya.