Membentuk Masa Depan Sejak Dini
Tak dipungkiri bahwa dalam perkembangan fakultas Ushuluddin, ada tumpang tindih di antara jurusan-jurusan yang ada. Diantara Aqidah dan Filsafat (AF), Tafsir-Hadits (TH), dan Perbandingan Agama (PA), terdapat ketidakmerataan pengembangan. Bahkan sejak 2005, jurusan Sosiologi Agama ditutup untuk selanjutnya dimasukkan dalam jurusan Perbandingan Agama sebagai Prodi deviasinya. Menurut Dekan baru, sebagaimana informasi yang penulis dapatkan, prodi SA ini mau di-”hidup”-kan kembali dengan pertimbangan mampu mendongkrak kembali sisi-sisi marketable-nya Ushuluddin.
Dalam tulisan ini, penulis hendak menyoroti perkembangan jurusan AF. Sejauh yang bisa penulis pantau, jelas terlihat bahwa pengembangan jurusan ini tidak sebanding dengan jurusan lain, baik Tafsir-Hadits dan Perbadingan Agama. Baik dilihat dari aspek kuantitas maupun kualitasnya. Ini menimbulkan tidak saja persoalan-persoalan psikologis, tapi juga cukup mengkendalai laju ke depannya fakultas Ushuluddin, lebih-lebih jurusan AF.
Pada aspek pertama, yakni kuantitas, disinyalir bahwa jurusan ini justru mengalami perkembangan negatif alias menurun. Terlihat dari minat mahasiswa barunya, tidak sedikit diantara mahasiswa baru jurusan ini berlatarbelakang “kegagalan”. Maksud penulis, gagal diterima di pilihan pertama. Sudah barang tentu pilihan pertamanya bukan AF.
Penurunan aspek kuantitas yang lain, tidak memadainya dosen pengajar di jurusan ini. Sehingga harus mengimpor dari, misalnya, fakultas Filsafat UGM. Dari pengamatan penulis terhadap mahasiswa AF semester atas, ada miss-communication antara mahasiswa dan dosen yang diakibatkan oleh adanya perbedaan latar belakang keilmuan. Misalnya saja, mata kuliah filsafat bahasa yang diampu oleh dosen UGM, tidak menyinggung tema problematis islamic studies dalam kaitannya dengan filosofi bahasa.
Pada aspek inilah problem ketimpangan kualitas pengajar di jurusan AF itu mengemuka. Artinya, permasalahan pada aspek kuantitas melahirkan permasalahan pada aspek kualitas. Di jajaran dosen pengajar, jujur kalau kita mau mengakui, tidak didukung oleh kapabilitas yang memadai. Terkait dengan mata kuliah yang berada pada rumpun islamic philosophy dan juga Contemporary philosophy, pengajarnya tidak sememadai di jurusan Tafsir-Hadis untuk rumpun Quranic exegesis studies.
Banyak dosen kapabel malah lebih tertarik menyibukkan diri di luar. Mereka aktif mengejar di luar, padahal kapabilitas mereka sangat diharapkan dapat memacu komitmen intelektual mahasiswa. Ada desas-desus bahwa ada permainan politis di kalangan birokrasi kampus, dimana ada peminggiran terhadap dosen-dosen muda berkualitas karena motif-motif politis-sektarian. Sehingga mereka, yang terpinggirkan itu, memilih untuk berkarier akademik di fakultas (atau universitas) lain. Belum lagi dosen-dosen pengajar yang bukan berasal dari tradisi keilmuan yang kuat, melainkan tradisi birokrat-administratif. Tidak sedikit kalangan terakhir ini memiliki posisi strategis di jajaran kejurusanan AF.
Jika persoalan ini memang dianggap persoalan, lebih-lebih dihadapkan pada masa depan AF, sebaiknya perlu pengkaderan sejak dini. Persoalan ini menyangkut keberlanjutan kader intelektual AF. Bukan tidak mungkin ke depannya, orang-orang seperti Pak Simuh (alm.), Pak Musa Asy’ary, Pak Alim Roswantoro, Bu Fatimah tak ada penggantinya. Ini penting mengingat besarnya harapan pada terpenuhinya landasan filosofis bagi seluruh kajian yang dikembangkan UIN Sunan Kalijaga. Pendeknya, Mutu pengajar harus segera dipersiapkan sejak sekarang.
Alangkah baiknya jika sedari awal sudah ada pembibitan terhadap mahasiswa yang diproyeksikan untuk mengawal akademika jurusan ini. Menurut pantauan panulis, setidaknya pada mahasiswa semester 3, sebenarnya ada fenomena menggembirakan dimana banyak yang memang berniat menceburkan diri sepenuhnya dalam pengembangan kajian kefilsafatan. Fenomena ini memang patut dan “harus” diapresiasi dengan baik. Kehadiran laboratorium filsafat “al-Hikmah” akan sangat berarti apabila visi-misinya diinspirasikan dari kegelisahan ini: mengkader calon-calon intelektual AF masa depan.
Selain itu, persoalan di tingkatan mahasiswa menunjukkan bahwa banyak yang tidak siap dengan kajian kefilsafatan dan keislaman. Idealnya, jurusan ini didukung oleh kesiapan mental dan intelektual karena tak dipungkiri jurusan ini menyibukkan diri dengan pusat doktrin Islam. Maksud penulis, idealnya mahasiswa AF berlatar belakang islamic studies kuat, yang bisa direpresentasikan oleh kalangan santri. Sangat disayangkan jika mereka tidak berlatar belakang seperti itu, sementara wilayah kerjanya adalah mengkonstruk bangunan baru fondasional Islam yang up to date.
Dengan pertimbangan ini, perlu pendekatan dan perluasan kerjasama dengan pesantren-pesantren sehingga bisa diperoleh mahasiswa-mahasiswa AF masa depan yang ber-SDM kuat. Tanpa itu, mungkin AF akan terus dipandang sebagai produsen “sarjana ambigu”, bahkan lebih parah lagi seperti apa yang ditulis oleh Hartono Ahmad Jaiz. Isu yang satu ini tak perlu dipanjanglebarkan. Sayangnya, program sosialisasi kemarin tidak efektif: “jauh panggang dari api”, tidak benar-benar dihayatinya urgensi program ini karena eksekutor lapangannya bermental “memanfaatkan kesempatan”, meski tidak semuanya.
Post-scriptum, semoga tulisan ini cukup menyadarkan para pemangku kebijakan dan menginspirasikan sebuah visi kongkret bagi pengembangan Ushuluddin, terutama jurusan Aqidah dan Filsafat, ke depan. Semoga…amien….

Tinggalkan Balasan