budaya baca

Ketika Budaya Nonton Kalahkan Budaya Baca

Oleh Mohammad Takdir Ilahi *

Kemajuan teknologi di satu sisi, memang memberikan secercah harapan kepada kalangan yang tertarik dengan kemajuan tersebut. Namun di sisi lain, kemajuan itu dapat berimplikasi negatif terhadap masa depan bangsa secara universal. Karena secara faktual teknologi yang identik dengan media elektronik telah menjadi candu bagi masyarakat, semisal televisi yang pada perkembangannya kian menawarkan kultur waching atau “peradaban nonton”. Realitas ini pernah diungkapkan Presiden Direktur Kelompok Kompas Gramedia Jakop Oetama, yang menuturkan bahwa kemajuan peradaban bangsa tidak bisa dibangun dengan budaya nonton, akan tetapi dengan membaca dan menulis kemajuan peradaban bangsa dapat ditentukan. Implikasi Budaya Nonton

Persoalan mengenai budaya nonton yang semakin berkembang pesat di kalangan generasi muda, tentu saja menjadi sebuah persoalan yang sangat krusial. Karena kita tahu, bahwa budaya nonton dapat memberikan kebahagiaan dan kesenangan bagi siapa saja yang menikmatinya. Dalam tayangan-tayangan televisi, disajikan beraneka ragam program yang menarik minat pemirsanya, agar termotivasi untuk menonton televisi. Apalagi kalau program itu bertemakan cinta dan persahabatan yang menjadi ciri khas sinetron Indonesia. Lebih parah lagi, tema itu kental dengan nuansa mitis.

Sinetron-sinetron seperti itu pada gilirannya akan membius dan mencandui sebagian besar anak muda untuk menikmati tayangan-tayangan tersebut. Sehingga, anak muda kita lebih senang dengan hal-hal yang sifatnya instan dan terkesan memberikan simulasi kebahagian dan kepuasan yang tentu saja bersifat fiktif dan sekejap. Terkonsentrasi pada yang instan dan sekejap, kalau mau diakui, membuat visi-visi jangka panjang akan semakin teralihkan (untuk tidak mengatakan, lenyap sama sekali).

Padahal kita sebenarnya tahu, bahwa sajian-sajian yang ada di televisi lebih banyak mengandung nilai-nilai negatif daripada nilai-nilai positifnya. Sebagai generasi muda, kita harus menyadari bahwa budaya nonton bukan merupakan budaya yang dapat memberikan keuntungan yang besar (big advantage) bagi masa depan bangsa di waktu yang akan datang. Bahkan sebaliknya, budaya nonton akan berimplikasi pada kemalasan anak muda untuk sekedar membaca dan menulis.

Kenyataan ini pada dasarnya tidak bisa kita elakkan bersama. Sebab budaya nonton yang sudah menjadi tradisi bagi sebagian besar masyarakat Indonesia akan mempersempit kesempatan untuk membangun kemajuan peradaban bangsa yang kita idam-idamkan. Kita tidak mungkin membangun bangsa ini, dengan melestarikan budaya nonton. Kita bisa mengambil contoh, bangsa Jepang yang pada awalnya berantakan akibat takluk terhadap invasi Amerika, ternyata mampu bangkit dari kehancuran dan keterbelakangan. Lalu Jepang menjelma sebagai salah satu negara maju, bahkan ikut bersaing dengan negara-negara maju lainnya. Dalam tempo yang tidak lama, Amerika yang telah menghancurkannya, justru merasa keteteran menghadapi pesatnya perkembangan dan kemajuan Jepang.

Semua ini tidak lepas dari semangat dan kedisiplinan bangsa Jepang dalam menuntut ilmu pengetahuan. Bangsa Jepang memiliki prinsip yang sangat teguh, yakni menghilangkan rasa malas ketika membaca buku. Sebagian besar bangsa Jepang telah menjadikan membaca sebagai menu utama setiap harinya dan telah menjadi budaya yang tidak bisa luntur sampai kapan pun. Di sana, sekadar untuk mengilustrasikan, setiap satu orang setidaknya membaca 7 koran. Di sini sebaliknya: 7 koran dibaca hanya oleh satu orang. Perbandingannya terpaut jauh.

Diskripsi di atas, sejatinya harus menjadi refleksi kita bersama. Karena hal itu menjadi sangat penting bagi kita untuk dijadikan pelajaran berharga bahwa peradaban bangsa hanya dapat dibangun dengan menjadikan aktivitas membaca sebagai budaya. Jika kita sadar, bahwa membaca merupakan jendela ilmu pengetahuan dan pembangun peradaban bangsa, maka ke depan kita mesti menghilangkan –setidaknya menimalisisir- budaya nonton yang menjadi problem krusial anak muda.

Revitalisasi Budaya Baca

Ketika budaya nonton semakin berkembang pesat di kalangan generasi muda, maka perlu kiranya kita melakukan gerakan-gerakan intelektual-progresif dalam rangka menjadikan membaca sebagai sebuah budaya. Gerakan-gerakan intelektual-progresif yang dimaksud penulis di sini adalah dengan jalan revitalisasi budaya baca di kalangan generasi muda.

Revitalisasi budaya baca merupakan gerakan praktis yang dapat memberdayakan masyarakat dalam hal mengakses tulisan dan bacaan. Karena, menurut Ari Ginanjar Agustian (2001), membaca pada gilirannya dapat membuka ruang berpikir bagi seseorang menjadi lebih kreatif dan progresif. Di mana seseorang yang melakukan aktivitas membaca, berati ia telah berpikir dan belajar mengenai keadaan sesuatu yang ada di hadapannya. Penekanan arti penting membaca begitu sangat dimuliakan di sisi Allah. Karena hal inilah yang akan menyelamatkan manusia dari keterbelakangan dan mendorong pada kemajuan peradaban.

Revitalisasi budaya baca dalam kehidupan bangsa begitu sangat signifikan. Karena membaca merupakan langkah awal untuk menjadikan buku sebagai teman setia kita. Maka tak salah, ketika Gola Gong (2006) menilai, bahwa “hanya dengan buku kita dapat menggenggam dunia: menjelajah segala pemikiran dan imajinasi yang terhimpun di jagat raya.”

Dalam sejarah peradaban manusia, buku memiliki kekuatan yang amat dahsyat. Namun kedahsyatan buku tidak akan ada artinya jika benda tersebut hanya dipajang, tidak pernah disentuh, apalagi dibaca. Meminjam istilah Joseph Louis Brodsky, pengarang asal Rusia, bahwa “ada beberapa kejahatan yang lebih buruk daripada membakar buku. Salah satunya adalah tidak pernah membaca buku.” Demikianlah, kembali pada buku diharapkan akan bisa meminimalisir kecenderungan generasi muda kita untuk tidak menelan candu tayangan-tayangan televisi yang tidak ada manfaatnya bagi masa depan dan perkembangan serta kemajuan peradaban bangsa.

~ oleh geistijany di/pada Juni 22, 2008.

Tinggalkan Balasan