rasis (tapi) inklusif, mungkinkah…?

Rasisme biasa dilekatkan dengan fasisme. Keduanya beda tapi menjadi identik kalau kita ingat Nazi dan Hitler. Oke. Mengaitkan keduanya akan membawa kita pada wacana Rasisme sebagai pemikiran politik. Tapi Rasisme tidak semata-mata hanya bisa dikaji dengan pendekatan itu. Rasisme merupakan salah satu penampilan wajah budaya. Seperti juga agama, sentimen rasis hampir kerapkali muncul ke permukaan tanpa kita sadari. Oleh karena itu, biarpun dibahas dalam posisinya sebagai model ideologi politis, simbol-simbol dalam Rasisme tetaplah simbol kultural yang memiliki sistem makna dan bisa dikonseptualisasikan.

Maka tak heran rasisme masih diapresiasikan secara kultural dimana-mana. Dari sisi mana rasisme bisa “dibenarkan”? Sepanjang sejarah manusia, tentu tak sulit kita menemukan ada banyak kelompok sosial, dari suku Quraisy jaman Nabi sampai pada tingkatan sebuah bangsa, Bangsa Arya misalnya. Semuanya butuh pengikat untuk integritas sistem sosial mereka. Tanpa integritas yang menyatukan individu-individu yang berbeda, sistem sosial tentu akan ambruk. Persoalan ini membawa kita pada pertanyaan: Jika sedemikian pentingnya ia, darimana pengikat sosial itu didapatkan?

Hampir semua ahli sosiologi bicara mengenai “identitas”. Identitas tak sekadar formalitas, “hitam di atas putih”, atau yang diambilkan dari produk sosial yang sementara sifatnya. Identitas –sejauh diperlukan sebagai pengikat bagi sistem dan institusi sosial—tentu harus diambilkan dari sesuatu yang sifatnya, katakanlah: sakral dan transenden. Para pemimpin politik sepanjang sejarah, dari Alexander the Great, Constantine, Xerxes di Persia, Muhammad (SAW.), dan seterusnya mula-mula yang dikerjakannya adalah menetapkan akar identitas untuk menyatukan kelompok sosial yang dipimpinnya.

Agaknya disinilah kita perlu menarik segaris pemahaman bahwa ras, suku, klan, bahasa, warna kulit, bahkan agama adalah manifestasi paling riil dari identitas. Yang menyatukan bangsa Indonesia, tentu bukan identitas sebagai bangsa eks-jajahan Belanda. Tapi kesamaan bahasa, ras, dan tentu saja sejarah. Ras, kesukuan, dan agama memang tidak saja mengkristal sebagai tradisi sampai sekarang. Lebih dari itu, di saat para pengamat optimis, bahwa segala macam ikatan yang bersandar pada ras dan kesukuan akan memudar seiring modernitas, justru yang terjadi sebaliknya: ras, kesukuan, dan agama cukup mewarnai peta perubahan politik dunia. (lihat Harold R. Isaac, Idols of the Tribe, 1975)

Rasisme adalah tipe/model ideologi politik yang mendasarkan kesamaan identitas pada akar-akar ras, suku, klan, warna kulit. Jadi, saya perlu menekankan bahwa kita semua ini pada dasarnya “rasis”! Tak bisa dipungkiri, bahwa kita menyandarkan identitas kita secara rasial dengan merujukkan semua yang melekat dari diri kita sekarang ini ke akar-akar masa lalu yang jauh. Kenapa? Karena tak bisa dipungkiri, kita selalu mengacu pada masa lalu, yang mencetakkan sebentuk identitas pada diri kita. Ketika melihat Merah Putih dikibarkan, ada kekuatan misterius yang menarik kita ke masa lalu. Semacam romantisme sejarah, dan berhenti pada Majapahit! Jika kebesaran Majapahit membesarkan rasa identitas keindonesiaan, maka saat itulah kita menjadi rasis: nenek moyang kita adalah kebesaran Majapahit! Dengan sendirinya, ada potensi untuk menyatakan, “Indonesia tak sama dengan Arab, Belanda, Amerika, Jerman…” Oleh karena itu, rasisme yang ekstrim bisa berkembang menjadi Fasisme, chauvinisme: menuhankan Tanah Air sebagai pusat segala bangsa.

Berkembang dalam Bentuk Takhayul Ilmiah

Mengasalkan identitas rasial pada masa lalu, sebenarnya merupakan epistemologi yang mengacu pada sejarah. Sejak kapan epistemologi seperti ini dilakukan oleh manusia? Sejak jaman baheula, tentunya. Dulu orang Yunani merasa superior dibanding orang dari budaya lain, karena percaya mereka dilahirkan oleh para dewa. Dan sekitar abad-abad “kemarin”, Imperialisme Barat dibenarkan secara rasial (dengan menggunakan epistemologi diatas), karena meyakini bahwa Eropa lebih beradab daripada non-Eropa karena akar sejarahnya berbeda. Keturunan bangsa Arya (Eropa) lebih superior dan beradab ketimbang bangsa Melayu, sehingga imperialisme itu diyakini sebagai proyek pem-beradab-an: membebaskan bangsa Melayu dari belenggu kebodohan dan keterbelakangan. Begitulah nalar mereka.

Argumen-argumen untuk mendukung alasan dibenarkannya Rasisme dari sudut pandang sejarah ini mulai gencar memasuki Eropa sejak revolusi Perancis. Ketika aristokrasi Perancis mulai berkibar, mereka mengklaim bahwa mereka absah menjadi penguasa karena mereka adalah keturunan penakluk Frankis pada akhir masa imperium Romawi. Sebagaimana yang dicatat oleh Ian Adam, Tom Pain menulis buku “Rights of Man” di tahun 1791, untuk melecehkan aristokrasi Inggris dengan alasan mereka (aristokrasi Inggris itu) keturunan anak haram jadah Perancis dan para bandit-bandit bersenjata. (lih. Ian Adam, Ideologi Politik Mutakhir, h. 297)

Di abad 19 berkembanglah ide-ide rasis yang didasarkan pada perkembangan keilmuan humaniora, terutama antropologi. Karena disponsori oleh proyek imperialis, orang Eropa mulai metani dunia, tahu bahwa ada banyak ras dan suku bangsa, mereka merekayasa perbedaan (inequality) rasial berdasarkan “indeks batok kepala” (cephalic index). Orang kulit sawo matang, misalnya, dianggap tak cerdas karena kepalanya bundar (branchycephalik) dan bukannya seperti orang Eropa yang dilochocephalik (kepala panjang). Inilah takhayul ilmiah, yang lahir di dalam kajian antropologi tapi ditafsirkan secara bias kepentingan.

Materialisme Rasis dan Kekeliruan Mendasar

Begitulah. Dari melihat ciri fisik seorang manusia, lalu ditentukanlah segala hal non-fisik yang menjadi karakternya. Dari fenomena faktual empiris, menuju abstraksi konseptual. Atau dalam bahasa Friedrich Engels (kolega Marx), kuantitas menentukan kualitas. Epistemologi rasis menemukan momentum perkembangannya setelah didukung oleh perangkat teoretis yang dipinjamkan dari Positivisme. Memang konteks di sekitar abad 19 adalah konteks berkibarnya Positivisme sebagai cara pemerolehan kebenaran ilmiah, secara institusional dan sistematik.

Maka perkembangan ini mengikuti logika rasis orang Barat untuk melihat kebudayaan (tradisi, ras, bahasa, simbol-simbol) non-Barat. Ujung-ujungnya adalah menetukan kriteria kebudayaan. Kebudayaan yang maju, cerdas, dan beradab adalah dihasilkan oleh ras manusia yang memiliki ciri-ciri tertentu, yang fisis sifatnya. Tentu kita terhenyak kalau menjumpai kesimpulan George Cuvier, seorang antropolog Perancis (1830), yang membuktikan secara “pasti” (?) korelasi konsisten antara karakteristik fisik dan karakteristik mental. Artinya, kemajuan dan kecerdasan berkorelasi secara pasti dengan ciri-ciri fisik, seperti kulit putih, rambut lurus, mata biru, hidung mancung, tinggi besar dst…(benarkah?)

Charles Darwin, pencetus teori evolusi garis “Survival of the Fittes”, tentu tak berniat membangun bangunan pengetahuan biologi yang rasis. Tapi adalah perkembangan ilmiah dalam spirit “knowledge is power”, biologi kembangan Darwin tak bisa menghindari untuk disalahtafsirkan demi kepentingan rasis dalam pengalaman imperialisme Barat. Dengan memandang sejarah perkembangan spesies manusia dibentuk oleh arena persaingan hidup, dimana yang bertahan adalah yang terkuat dan terbaik, maka pandangan ini menjustifikasi bahwa ras manusia tertentu secara alamiah dapat menempati puncak hierarki pada spesies manusia. Jika ras kulit putih Eropa menempati puncak itu, maka itu adalah representasi the Fittes yang diproduk dari hukum alam. Dengan kata lain, imperialisme Eropa –yang sudah barang tentu rasis sifatnya- adalah alamiah dan memang sudah sewajarnya.

Pandangan ini semakin memperkuat doktrin Naturalisme, bahwa segala peristiwa sepanjang sejarah umat manusia memang terjadi dan harus terjadi seperti itu. Masih berkibarnya rasisme sampai sekarang ini, bahkan di negara yang mengaku paling demokratis, Israel, adalah karena pada tataran filsafatnya kita masih berpandangan bahwa akar-akar permasalahan rasis sealur dengan pola hukum alam. Dan ini adalah kekeliruan mendasar yang perlu kita sadari. Seperti yang ditegaskan oleh Roland Barthes: kelirunya kita dalam melihat fenomena budaya adalah menganggap segala sesuatunya sebagai yang bersifat alamiah. (Mitology, Roland Barthes, hal…-lupa!-)

Kesimpulan Sementara

Jika rasisme adalah persoalan yang sejatinya terkait dengan identitas, maka identitas itu sebenarnya tidak bisa direduksi pada satu akar historis tertentu. Karena mengungkit kata “historis” tidaklah berarti ada simplikasi (baca: penyederhanaan) disana. Identitas tak pernah lahir lalu mati, tanpa menyediakan diri untuk terbuka pada gerak dan perubahan. Bukan semata-mata ras itu berasal-usul pada sesuatu sebagai akar identitasnya. Jika akar identitas itu “sesuatu”, diam seperti batu, tentu itu bukan identitas manusia dan kesadaran. Itulah kenapa rasisme melukiskan tragedi dalam sejarah manusia, ia menjadikan manusia turun pada derajat hewan keras kepala, buta dan “batu.” Dengan kritis, Adonis menulis “…identitas senantiasa terbuka, bukan tertutup; senantiasa berinteraksi, bukan menutup diri; ….” (Arkeologi Sejarah Pemikiran Arab-Islam, Pengantar, h. xliii). Bagaimana kalo kita jadi “rasis” (tapi) yang beridentitas-terbuka?

bahan diskusi dan bedah film “muhammad Ali dan rasisme”

~ oleh geistijany di/pada Agustus 20, 2008.

Satu Tanggapan to “rasis (tapi) inklusif, mungkinkah…?”

  1. cari jodoh yg cakep, putih, mancung, sexy… jgn cari jodoh yg pendek, item, pesek, kayak bebek… hehehehe…

    ngobrol tentang rasis kan?? coba aja tebak berapa jumlah org rasis kalo kalimat diatas yg jadi ukurannya!

    kita ga usah menghindar… putri indonesia, putri pajak, putri kecantikan, Putri Solo atau putri apaan kek.. pasti berdasarkan pada kriteria tertentu. seberapa cantiknya, seberapa idealnya ukuran tubuhnya, seberapa ia memelihara kebugaran tubuhnya, kecerdasannya… serta apa kek yg kira2 marketable buat lelaki hidung belang

Tinggalkan Balasan