Geliat Ushuluddin UIN Jogja 2008

oleh Muhammad Geistijany*

Beberapa hari ini fakultas kita sedang disibukkan dengan masuknya mahasiswa baru. Kesibukan itu hampir berimbas pada semua civitas akademika, baik para dosen, mahasiswa lama, karyawan-karyawan TU, jajaran Dekanat dan sebagainya. Bagi para dosen, ada kesibukan tersendiri yang terkait dengan standart kurikulum tahun akademik 2008-2009. Di beberapa jurusan bahkan ada kurikulum-kurikulum baru yang dirancang supaya bangunan keilmuannya tidak ketinggalan jaman.

Dulu penulis tidak menjumpai ada mata kuliah Filsafat Islam tradisi Timur (Baghdad), tapi di tahun ini mahasiswa AF angkatan 2007 akan mempelajarinya, di bawah pengajaran Dr. Fatimah Husein. Penulis beranggapan, barangkali tidak saja jurusan AF yang melakukan penyesuaian dan perubahan pada tataran kurikulumnya. Jurusan lain tentunya demikian juga. Tak dapat dipungkiri, perubahan adalah keniscayaan, semacam tuntutan ketika segala hal di hadapkan pada situasi mutakhir saat ini.

Mencermati stadium general di fakultas Ushuluddin, ada nuansa yang memperlihatkan mulai diliriknya institusi tradisional, yang kita kenal dengan sebutan ‘pondok pesantren.’ Di saat fakultas-fakultas ‘Islamic studies’ kelimpungan dengan basis keilmuannya, secara kultural telah dibentuk semacam kerja sama ‘imajiner’ antara perguruan tinggi dan pondok pesantren. Diakui atau tidak, memang semua fakultas berbasis ‘Islamic Studies’ sangat bergantung pada keberadaan pesantren. Sudah saatnya perkembangan menarik ini diapresiasi dan dilanjutkan pada tataran yang lebih operasional dan kongkret.

Bagi para mahasiswa lama, ada kesibukan yang cukup menguras energi, terutama mereka yang duduk di lembaga kemahasiswaan (LKM/BEM) dan kepanitaan OPAK (sebutan baru untuk OSPEK). Sejauh yang penulis ketahui selama memantau dan menjadi fasilitator dalam kegiatan ini, ada tanda-tanda menggembirakan bahwa rata-rata mahasiswa baru relatif sama ‘kultur’-nya, yakni berangkat dari tradisi pesantren, minimal Madrasah Aliyah. Ini tidak berarti sama sekali tidak ada yang berlatar belakang SMU an sich, meskipun cuma ’satu-dua’.

Tentunya ini cukup menggembirakan. Selain terkait dengan latar kultural itu, bahwa banyak (bahkan rata-rata) di antara mahasiswa baru itu memilih fakultas ini sebagai pilihan pertama merupakan fenomena unik yang pantas ditelisik. Mengapa? karena hal ini menandakan mulai robohnya ’mitos’ yang seringkali di-opini-publik-kan bahwa fakultas ini hanya diisi oleh “orang-orang buangan.” Mitos ini sedikit banyak, diakui atau tidak, sangat menggelisahkan dan membuat kita ’ill feel’ berat. Pasalnya, beberapa kali penulis berkomunikasi dengan partner-partner di UIN Syahid (Jakarta), di sana ada opini publik yang beredar bahwa fakultas Ushuluddin adalah fakultas ”madesu” (bahasa gaul, artinya ’masa depan suram’).

Kongruen dengan fakultas ’saudara sepersusuan’ kita di lingkungan UGM, fakultas filsafat, di sana juga beredar semacam gosip ”jika ingin kuliah di UGM, mengejar prestise, milih aja di fakultas filsafat…relatif mudah diterima karena saingannya sedikit.” Hal ini menunjukkan fakta bahwa fakultas-fakultas yang bergerak secara sistematis di bidang pemikiran intelektual sampai sekarang masih ter/di-pinggirkan. Oke lah…ini permasalahan yang sebenarnya sudah sangat menggelisahkan sejak ’jaman baheula.’ Untuk itu, kini kita perlu merumuskan satu strategi jangka panjang dan taktik operasional kongkret untuk mengatasi problem klasik ini.

Di tingkatan institusional, apa yang digagas oleh para pemangku kebijakan (Dekanat) sudah cukup tepat (meski terlambat). Yakni mengangkat isu yang mengkorelasikan perguruan tinggi islami dengan pondok pesantren. Namun perlu diantisipasi jika pertimbangan yang dipakai hanya berkisar-kisar pada orientasi ’market’: supaya fakultas ini laku, tidak kehilangan pelanggan, maka pesantren dijadikan sebagai ’penggiring massa’ untuk mengkonsumsi apa yang ditawarkan fakultas ini sebagai pengetahuan.

Pertimbangan itu tidak saja keliru, tapi sangat tidak bijak dan merugikan secara jangka panjang. Seharusnya ini berangkat dari ’watak akademik’ fakultas ini sendiri, yakni watak akademik sebagai gerbong pemikiran Islam yang berdimensi kekinian, progresif dan berupaya mewujudkan Islam yang Rahmatan lil ’Alamin’. Ini memerlukan keberanian dan kewenangan untuk memasuki wilayah paling prinsipil dan fundamental dari bangunan tradisi Islam kita. Oleh karenanya, perlu ada ’pedekate’ terhadap kader-kader baru fakultas ini supaya mereka benar-benar menghidupkan watak fakultas ini dalam kepribadiannya.

Yang dimaksudkan penulis di sini adalah bagaimana seharusnya mahasiswa baru itu “meraba dirinya sendiri” dalam rangka menemukan akar-akar otentisitas mereka. Apa misi dan target mereka di fakultas Ushuluddin, seharusnya jauh-jauh hari sudah disadari. Oleh karena itu, ada sejuta kemungkinan potensial yang bisa diwujudkan oleh mereka: menjadi politisi, organisatoris, penulis, pendidik, aktifis LSM, dan sebagainya. Dari sekian macam ’atribut’ itu, ada watak primordial yang tak bisa disubordinatkan oleh/di bawah institusi Ushuluddin, yakni watak personal sebagai ’intelektual publik yang progresif’.

Menjadi mahasiswa Ushuluddin berarti bekerja demi lahirnya gagasan baru, otentik, dan radikal (mendasar), sekaligus mentransformasikannya di wilayah publik, meski dalam sekop yang paling kecil sekalipun. Inilah ’natural character’ yang barangkali saja tidak bisa dipersonalisasikan hanya melalui perangkat-perangkat (atau perangkap?) di dalam lembaga pendidikan formal, melainkan berangkat dari individu mahasiswa sendiri. Implikasinya, fakultas memang tidak menjamin terbukti/tidaknya gosip ”madesu” seperti yang telah disinggung di muka, melainkan pribadi mereka sendiri.

Jelasnya, perlu radikalisasi atas potensi ”ekspresi” dan ”transformasi” dari apa yang telah, sedang dan akan dipelajari mahasiswa baru di lingkungan ilmiahnya. Ekspresi pemikiran otentik dan transformasinya secara publik adalah murni berada di dalam otentisitas mahasiswa. Maka secara institusional, fakultas perlu meluangkan ruang kebebasan bagi mahasiswa untuk lahan persemaian ”ekspresi” dan ”transformasi” di luar dunia akademik formalnya.

Dus, terlalu sentralistiknya perangkat lembaga formal pada ruang personal mahasiswa akan berakibat pada lahirnya (meminjam istilahnya Alex Charles) banyak ”Unknown Man” (baca: manusia blawur, manusia antah berantah) baru di lingkungan fakultas kita. Semoga mahasiswa baru fakultas Ushuluddin UIN Sunan Kalijaga mampu mewujudkan semesta kemungkinan, sejuta potensi kemanusiaan mereka sendiri. Amien.

* Ketua BEM Jurusan Aqidah dan Filsafat Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Kalijaga

~ oleh geistijany di/pada Agustus 25, 2008.

3 Tanggapan to “Geliat Ushuluddin UIN Jogja 2008”

  1. Good opinion…

    Ada aura optimisme yang saya tangkap dari pendapat Bung. Walaupun jujur 2 tahun belakangan, sejak peralihan IAIN ke UIN, saya sering merasakan alienasi terhadap Fakultas ini.

    Tapi, harapan selalu menyelamatkan. Saya masih percaya Ushuluddin bisa jadi tempat yang kondusif untuk suatu “culture of thinking” yang sehat. Saya melihat itu pada wajah-wajah mahasiswa baru, generasi baru.

  2. ushuluddin menggeliat… kaya’ orang bangun tidur …
    mungkin sebelumnya emang masih tidur… sedangkan fakultas lain sudah pada bangun sebelumnya…
    entah berapa lama kita tertidur?
    yachh… ramalan empat taon yg lalu tepat.. UIN lebih bangga ama fakultas umumnya drpd fakultas agamanya.. fakultas agama malah sepi diskusi, sepi fasilitas, sepi mahasiswa yg ndaftar, sepi dari pujian, sepi … sepi.. dan sepi… lama2 entar jadi kuburan
    kuburan bertingkat empat yg di tengahnya ada taman dengan kolam alias genangan air sarang nyamuk malaria… yg diujung2nya ada pohon palem.. aku ga tau kenapa ga diganti ama pohon kelapa aja sekalian aja…
    nasib ushuluddin bak teatre ketoprak…. dulu digemari sekarang hanya tinggal kursi tempat tinggal para rayap… dulu penjaganya ganteng dan cantik.sekarang masih sama, tapi dah tua dan ga terawat… reot.. reot..reot….

    yg lalu dah terbukti kalah dengan yg baru, ga perlu disesali, kita perlu membangkitkan yg lalu dengan wajah yang baru…

    oke, selamat berkarya!!!

  3. ya emang itu demi suatu kemajuan disatu sisi, namun sebuah kemunduran pada sisi lain.
    yang akhirnya secara tidak langsung fakultas primer uin yang menjadi korban.

Tinggalkan Balasan